Senin, 06 April 2015

Tak kusangka

Terkejut menyaksikan dosen saya yang sedang menahan kemarahannya, setelah itu saya melihat seorang pembimbing sekaligus sebagai guru yang saya idolakan ternyata mampu menghentinkan emosinya,  Ketika mahasiswa datang terlambat. Sungguh perasaan kaget saya sampai sekarang masih terasa. Saya mengira bahwa orang pintarpun seperti Prof Ali Aziz ternyata bisa juga marah.
Dengan ekspresi wajah yang mengumam dan berkaca mata miring, seakan akan seperti bukan Prof Ali, yang saya kenal selama ini, yang orangnya lemah lembut dan penyayang bagi anak didiknya, tidak suka marah, ternyata saya ingat minggu lalu pada hari yang seperti biasanya, selasa pukul 12.20 wib, dengan cuaaca yang sangat panas setalah berjalan dari masjid Ulul albab setelah melaksanakan sholat duhur berjamaah dengan terik panas matahari yang menyinari bumi dengan lambat laun awan awan terhembus angin pria hebat itu berjalan dari tempat pengimaman menuju ke pintu keluar Masjid Ulul albab, untuk mengambil sepatu yang biasa ia gunakan untuk mengajar mahasiswa Uin Sunan Ampel fakultas Dakwah .
Dosen yang terkenal dengan ilmu Retorikanya itu, saya ingat pada saat saya ngaji seperti biasa di sebelum subuh yakni yang diajari oleh guru saya yang selalu membimbingku yakni KH Sholeh Sahal  beliuau bertkata “pak Ali Aziz itu ceramahnya bagus dan tulisannya bagus karena mungkin beliau  sudah sangat sering nulis. “ lalu saya berfikir bahwa professor yang bertempat tinggal di Siwalan Kerto Tengah itu memang ahli dalam beretorika ternyata bisa juga marah , namun kemarahannya hanya seperti memberikan sangsi yang lucu yakni bersujud sebelum duduk untuk menerima kuliah teknik khitobah, nah ini yang saya herankan , tidak biasanya mantan Fakultas dakwah memberikan sangsi seperti itu.
Disaat saya menahan tertawa dan menahan dahaga rasanya tidak terasa meskipun tenggoroan dalam keadaan kering. Ketika melihat teman saya Faizin Muhammad bersujud di hadapan bangku bangku dan kursi yang kosong yang hendak mau didduduki, namun sebelum rekan saya duduk ternyata disyop drngan perkataan yang dilontarkan oleh dosen yang lagi kesal dengan mahasiswanya yang terlambat. Beliau berkata “ sudah jam berapa sekrang , ayo sujud di sambil bersepatu , agar saya gak marah karemna kamu terlambat.
Dengan perkataan yang di ucapkan seperti orang kesurupan wajah yang merah berkaca mata , saya menilai tak kusangka professor yang berjenggot putih memarahi mahasiswanya dengan seperti itu.

11 komentar:

  1. bisa nulis juga ternyata,,, istiqomah,,,,dakwah bil-Qolam...jangan sekedar nyemprul di depan jamaah

    BalasHapus
  2. Maka dari itu sekarang sudah harus istiqomah nulis

    BalasHapus
  3. Maka dari itu sekarang sudah harus istiqomah nulis

    BalasHapus
  4. ketawa terus,,,oya tulisan ante "nah ini yang saya herankan , tidak biasanya mantan Fakultas dakwah memberikan sangsi seperti itu.",,,makhsudnya?

    BalasHapus
  5. Tidak biasanya mantan dekan fakultas dakwah memberikan sanksi seperti itu. Ya semacam memberikan sanksi bersujud sebelum menerima perkuliahan

    BalasHapus
  6. Tidak biasanya mantan dekan fakultas dakwah memberikan sanksi seperti itu. Ya semacam memberikan sanksi bersujud sebelum menerima perkuliahan

    BalasHapus
  7. Tidak biasanya mantan dekan fakultas dakwah memberikan sanksi seperti itu. Ya semacam memberikan sanksi bersujud sebelum menerima perkuliahan

    BalasHapus
  8. ikhlas melakukannya?

    BalasHapus
  9. semua orang itu pasti bisa menulis ..
    di dunia ini apa yang gak bisa itu,,

    BalasHapus
  10. Bagus mas gaya tulisannya, pengalaman yang bermanfaat

    BalasHapus