BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Modal yang
paling berharga untuk bekerja sama dengan orang lain yakni terwujudnya untuk
saling berkomunikai dengan baik. Dan komunikasi yang efektif memungkinkan
tercapainya tujuan berkomunikasi.
Komunikasi
merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Kesuksesan dan
kegagalan seseorang dalam hidupnya dapat terpengaruhi oleh efek komunukasinya
terhadap orang lain, dengan komunikasi kepercayaan seseorang terhadap orang
lain dapat tumbuh sehingga untuk mengetahui seseorangpun mudah dilakukan.
Tujuan
berkomunikasi tersebut, antara lain mengubah sikap, pendapat, perilaku dan
masyrakat. Dengan demikian, menerapkan komunikasi yang efektif sangat penting.
Everett M. Rogers
Mengemukakan komunikasi merupakan proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku
mereka.
Menurut Martin
& Anderson, 1968, komunikasi tidak dapat dimengerti kecuali sebagai proses
dinamis dimana pendengar dan pembicara, pembaca dan penulis bertindak secara
timbal balik, pembicara bertindak memberikan sensor stimulus pendengar secara
lansung dan tidak langsung, pendengar bertindak memberikan stimulus dengan
menerimanya, menyimpannya dengan arti memanggil image di pikiran, kemudian
menguji image tersebut melawan informasi yang disampaikan dan perasaan dan
cepat atau lambat bertindak atas image tersebut.
Komunikasi
berawal dari gagasan yang ada pada seseorang. Gagasan itu diolahnya menjadi
pesan dan dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima.
Penerima menerima pesan, dan sesudah mengerti isi pesan itu kemudian menanggapi
dan menyampaikan tanggapannya kepada pengirim pesan. Dengan menerima tanggapan
dari isi penerima pesan itu, pengirim pesan dapat menilai efektifkah pesan yang dikirimkan. Berdasarkan tanggapan
itu, pengirim dapat mengetahui apakah pesannya dimengerti dan sejauh mana
pesannya dimengerti oleh orang-orang yang dikirimkan pesan itu.
Berkomunikasi
tidak harus dilakukan dengan kata-kata tetapi juga bisa menggunakan gerak mimik
tubuh seperti mengedipkan mata, tersenyum dll, tetapi pesan komunikasi akan
diterima oleh komunikan apabila komunikan dapat memahami atau mengerti apa yang
komunikator sampaikan.
Setiap
komunikator pastinya menginginkan pesan yang disampaikan dapat diterima dan
dipahami oleh komunikan. Seiring dengan perkembangan zaman kita sangat perlu
bagaimana cara berkomunikasi secara efektif. Karena dengan berkomunikasi secara
efektif kita tidak akan kalah saing dengan Negara lain.
B.
Rumusan Masalah
1.
Apa pengertian komunikasi efektif, serta apa
unsur-unsur komunikasi ?
2.
Bagaimana berkomunuikasi yang efektif ?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui pengertian komunikasi efektif,
serta unsur-unsur komunikasi efektif
2.
Untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi
efektif
BAB II
A.
Pengertian Komunikasi Efektif
Komunikasi
efektif adalah komunikasi yang mampu menciptakan kecocokan antara pesan yang
diterima oleh komunikan dengan pesan yang dikirim oleh komunikator sehingga
pesan tadi dapat ditindak lanjuti dengan tepat.
Menurut T.A Lathief Rousydy (1989:91), komunikasi efektif ialah komunikasi yang
berhasil mencapai sasaran dengan feedback yang positif.
Komunikator
berhasil secara efektif memberikan pengertian kepada komunikan, sehingga ia
mempunyai pengertian yang sama dengan komunikator tentang pesan yang
disampaikan. Selanjutnya, komunikator berhasil merubah tingkah laku komunikan
sesuai dengan rencana semula.
B.
Unsur-unsur Komunikasi Efektif
Unsur-unsur yang berperan dalam
membangun sebuah komunikasi, yaitu:
1.
Komunikator, berfungsi sebagai pengirim pesan.
Komunikator dapat terdiri dari personal
ataupun sekelompok orang.
2.
Komunikan, adalah orang yang menerima pesan
dari komunikator. Komunikan juga terdiri dari seorang saja ataupun sekelompok
3.
Pesan, merupakan sesuatu yang disampaikan
komunikator tertuju kepada komunikannya. Pesan dapat berupa gambar, mimik muka,
suara dll. isi pesan antara lain hiburan, perintah dan ilmu pengetahuan.
4.
Sarana, dapat berupa surat, facsimile,
telephon, surat kabar, radio, internet, proyektor dll.
5.
Efek, apa yang terjadi pada penerima setelah
ia menerima pesan tsb. Misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi
tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan
keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak bersedia membeli barang yang
ditawarkan menjadi bersedia membelinya, atau dari tidak bersedia memilih partai
politik tertentu menjadi bersedia memilihnya dalam pemilu), dan sebagainya.
6.
Umpan balik, masukan-masukan yang diterima
oleh komunikator dalam proses komunikasi yang berfungsi untuk melihat sejauh
mana suatu pesan yang diterima komunikan cocok dengan maksud komunikator yang
sebenarnya. Umpan balik tidak hanya berasal dari komunikan tapi juga bersal
dari unsur pesan dan unsur media.
7.
Lingkungan, menurut Hafied Cangara, factor
lingkungan dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu lingkungan fisik, social budaya,
psikologi dan dimensi waktu. Lingkungan fisik mencakup keadaan geografis suatu
tempat, jarak antara komunikator dan komunikan juga sarana komunikasi yang
dipakai. Lingkungan social budaya meliputi bahasa yang digunakan, kepercayaan,
adat istiadat yang berlaku serta status social baik komunikator maupun
komunikan. Lingkungan psikologis, antara lain ucapan tertentu yang berpotensi
menyakiti hati komunikan, keaktualan materi yang disampaikan, ketepatan materi
dengan usia komunikan dll. sementara dimensi waktu merupakan situasi yang
menunjukkan kapan saat yang paling tepat untuk melakukan komunikasi.
C.
Syarat-syarat komunikasi efektif
1.
Menciptakan suasana yang menguntungkan
2.
Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan
dipahami
3.
Pesan yang disampaikan dapat menggugah
perhatian atau minat di pihak komunikan
4.
pesan dapat menggugah kepentingan dipihak
komunikan yang dapat menguntungkannya
Wilbur Schramm
merumuskan efektifitas komunikasi (the condition of success in communication)
dari sudut pesan:
1.
Pesan harus direncanakan dan disusun
sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan
2.
Pesan harus menggunakan lambang-lambang
tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga
sama-sama dimengerti
3.
Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi
komunikan dan menyarankan beberapa cara memperoleh kebutuhan tersebut
4.
Pesan harus berisi cara untuk memperoleh
kebutuhan terebut sesuai dengan situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat
ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
Efektifitas
komunikasi dari segi waktu:
1.
Waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu
pesan
2.
Bahasa yang harus dipilih agar pesan dapat
dimengerti dengan tepat dan benar
3.
Sikap dan nilai yang harus ditampilkan
4.
Jenis kelompok dimana komunikasi akan
dilaksanakan
Efektifitas
komunikasi dinilai dari sudut komunikan. Menurut Chester I. Barnard, seseorang
akan dapat menerima sebuah pesan, hanya kalau terdapat 4 kondisi berikut secara
stimulant:
1.
Ia benar-benar mengerti pesan komunikasi
2.
Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar
bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuan
3.
Pada aat ia mengambil keputusan, ia juga sadar
bahwa keputusannya itu berkaitan dengan kepentingan pribadinya
4.
Ia mampu untuk menjalaninya, baik secara
mental maupun fisik
Berkaitan
dengan hal diatas, Cultip dan Center dalam bukunya Effective Public
Relations mengatakan, setiap komunikator harus ingat beberapa fakta
berikut:
1.
Bahwa komunikan terdiri dari orang-orang
hidup, bekerja dan bermain satu sama lain dalam jaringan lembaga social. Karena
itu setiap orang adalah subyek bagi berbagai pengaruh, diantaranya adalah
pengaruh dari komunikator
2.
Bahwa komunikan membaca, mendengar dan
menonton komunikasi yang menyajikan pandangan hubungan pribadi yang mendalam.
3.
Bahwa tanggapan yang diinginkan komuniktor
harus menguntungkan komunikan. Jika tidak akan memberikan tanggapan.
Kunci
menciptakan komunikasi yang efektif, yaitu berusaha mengetahui segala sesuatu
tentang komunikan. Komunikan merupakan unsur komunikasi yang penting sebab
darinyalah komunikator berharap pesan dapat diterima dan kemudian dapat
ditindak lanjuti sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Harus diinsafi bahwa
komunikan adalah seorang manusia yang juga mempunyai banyak kebutuhan yang
harus di penuhi. Kebutuhan tersebut antara lain kebutuhan akan informasi,
kebutuhan berbagi rasa, dan kebutuhan mengembangkan wawasan. Untuk itu,
komunikasi harus mampu menjawab kebutuhan komunikan sebuah pesan tadi. Seorang
komunikan akan menerima sebuah pean hanya kalau terdapat empat kondisi, yaitu
ia dapat benar benar mengerti pesan pesan tersebut. Pada saat ia mengambil keputusan,
ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuannya. Pada saat ia mengambil
keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan
pribadinya, ia mampu untuk menepatinya secara mental maupun secara fisik.
D.
Etika Komunikasi Dalam
Alqur’an dan maqolah
Soal cara
(kaifiyah), dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar
komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya
sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam.
Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum
muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal,
interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan,
maupun dalam aktivitas lain.
1) AL-QURAN
Dalam
berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan
setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan
sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yaitu
a.
Qaulan Sadida (perkataan
yang benar, jujur)
QS. An Nisa ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا
خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا
قَوْلا سَدِيدًا
“Dan
hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan
keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap
(kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah
dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadida)”.(Q.S.
an-Nisa’ :09)
2. Qaulan
Baligha (tepat sasaran, komunikatif, to the point, mudah dimengerti)
QS. An Nisa ayat 63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ
عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا
“Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang
di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah
mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang
berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa’ : 63)
3. Qaulan
Ma’rufa (perkataan yang baik)
QS. Al Ahzab ayat 32
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ
فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ
قَوْلا مَعْرُوفًا
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti
wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam
berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan
ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.”(QS. Al-Ahzab: 32)
4. Qaulan
Karima (perkataan yang mulia)
QS. Al Isra’ ayat 23
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ
إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا
تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang
diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu,
maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan
jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang
baik”.(QS. Al-Isra’: 23)
Dari ayat tersebut jelas bahwa kita diperintahkan untuk
mengucapkan perkataan yang baik atau mulia karena perkataan yang baik dan benar
adalah suatu komunikasi yang menyeru kepada kebaikan dan merupakan bentuk
komunikasi yang menyenangkan.
5. Qaulan
Layyinan (perkataan yang lembut)
QS.
Thaha ayat 43-44
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Pergilah
kamu berdua kepada Fir’aun karena benar-benar dia telah melampaui batas. Maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan dia sadar atau takut” (QS.at-Thaha
43-44)
Dari ayat tersebut maka dapat ditarik kesimpulan
bahwa Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut,
dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh
hati maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan
suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang
yang kasar. Rasullulah selalu bertuturkata dengan lemah lembut, hingga setiap
kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya.
Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah
kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi
kasar.
Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi
Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun.
Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak
berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan
komunikasi kita.
Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal
mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan
tinggi. Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam
berdakwah, karena kekerasan akan mengakibatkan dakwah tidak akan berhasil malah
ummat akan menjauh. Dalam berdoa pun Allah memerintahkan agar kita memohon
dengan lemah lembut, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan
suara yang lemah lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang
melampaui batas,” (Al A’raaf ayat 55)
6. Qaulan
Maysura (perkataan yang ringan)
QS. Al Isra’ ayat 28
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا
فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا
”Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat
dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura
–ucapan yang mudah”.
2)
Maqola
Di dalam perkataan orang arab juga ditemukan
prinsip-prinsip etika komunikasi, bagaimana Rasulullah saw mengajarkan
berkomunikasi kepada kita. Berikut maqola :
1.
Pertama, Qulil haqqa
walaukana murran (katakanlah apa yang benar walaupun pahit rasanya)
2.
Kedua, falyakul khairan
au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa, diamlah).
3.
Ketiga, laa takul qabla
tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu).
4.
Keempat, Nabi menganjurkan
berbicara yang baik-baik saja, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi
Dunya, “Sebutkanlah apa-apa yang baik mengenai sahabatmu yang tidak
hadir dalam pertemuan, terutama hal-hal yang kamu sukai terhadap sahabatmu itu
sebagaimana sahabatmu menyampaikan kebaikan dirimu pada saat kamu tidak hadir”.
5.
Kelima, selanjutnya Nabi saw
berpesan, “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang…yaitu
mereka yang memutar balikan fakta dengan lidahnya seperti seekor sapi yang
mengunyah-ngunyah rumput dengan lidahnya”. Pesan Nabi saw tersebut bermakna
luas bahwa dalam berkomunikasi hendaklah sesuai dengan fakta yang kita lihat,
kita dengar, dan kita alami.
Prinsip-prinsip etika tersebut, sesungguhnya dapat
dijadikan landasan bagi setiap muslim, ketika melakukan proses komunikasi, baik
dalam pergaulan sehari-hari, berdakwah, maupun aktivitas-aktivitas lainnya.
E.
Faktor-faktor Menciptakan
Komunikasi Efektif
Factor utama yang perlu
diperhatikan dalam menciptakan komunikasi yang efektif meliputi;
1.
Faktor komunikator, komunikator yang baik
mendukung terciptanya komunikasi yang efektif. Seorang komunikator harus dapat
dipercaya dan mempunyai daya tarik bagi komunikannya. Kepercayaan dan daya
tarik tadi penting demi pencapaian tujuan berkomunikasi. Tingkat kepercayaan
komunikan terhadap komunikator antara lain diperoleh dari wewenang yang
dimiliki komunikator, derajat keahlian komunikator, hingga keobjektifan wawasan
komunikator. Misalnya saat mendiagnosis suatu penyakit, perkataan seorang
dokter lebih dipercaya kebenarannya dari pada perkataan tukang jual obat
pinggir jalan dll. dengan adanya kepercayaan komunikan terhadap komunikator,
akan meyakinkan komunikan untuk mempercayai kebenaran pesan yang disampaikan
oleh sang komunikator. Daya tarik komunikator dapat diupayakan melalui
kepribadian yang tegas, ekspresi yang meyakinkan dan tepat serta rasa percaya
diri. Selain itu, daya tarik komunikator juga dapat diperoleh melalui
pengupayaan kesamaan antara komunikator dengan komunikannya, khususnya kesamaan
ideology dari pada kesamaan demografi.
2.
Komunikan, kunci komunikasi yang efektif,
yaitu berusaha mengetahui segala sesuatu tentang komunikan. Komunikan merupakan
unsur komunikasi yang penting sebab darinyalah komunikator berharap pesan dapat
diterima dan kemudian dapat ditindaklanjuti sesuai dengan tujuan berkomunikasi.
Harus diinsafi karena komunikan juga manusia yang mempunyai banyak kebutuhan
yang harus dipenuhi diantaranya ialah kebutuhan informasi, kebutuhan berbagi
rasa dan kebutuhan mengembangkan wawasan. Seorang komunikan akn dapat menerima
sebuah pesan hanya kalau terdapat 4 kondisi, yaitu ia dapat dan benar-benar
mengerti pesan tersebut. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa
keputusannya itu sesuai dengan tujuan. Pada saat ia mengambil keputusan, ia
sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan pribadinya, ia
mampu menepatinya baik secara mental maupun secara fisik.
3.
Pesan, merupakan suatu hal yang disampaikan
oleh komunikator kepada komunikan. Pesan seyogyanya selaras dengan ekspresi
atau tindakan yang dimunculkan. Contoh sederhana seseorang yang berlari-lari
membawa parang dengan diacung-acungkan sambil berteriak minta tolong, jelas
tidak aka nada yang datang menolong sebab orang-orang di sekitarnya justru
menjadi ketakutan.
D.
Langkah-langkah menuju Komunikasi
Efektif
Untuk menuju arah komunikasi
efektif maka diperlukan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Mengembangkan wawasan
Seorang komunikator hendaknya seorang yang
cakap dan memiliki wawasan yang luas
sehingga dapat mendongkrak rasa percaya diri komunikator. Maka dengan
sendirinya akan memperlancar jalannya komunikasi. Seorang yang berwawasan luas
dapat dilihat dari cara ia berbicara dan menyampaikan pertanyaan. Wawasan dapat
diperluas melalui membaca, pengalaman, mendengarkan dari orang lain dan
sebagainya.
2.
Menggunakan bahasa tubuh
Penggunaan bahasa tubuh mendukung lancarnya
komunikasi. Sebagian besar isyarat komunikasi dasar sama di seluruh dunia.
·
Menggeleng tanda tidak setuju
·
Mengangguk tanda setuju
·
Mengernyitkan dahi saat berpikir atau
menyelidik
Bahasa tubuh yang mecerminkan emosi
yang sedang dialami dan kepribadian orang yang bersangkutan.
·
Orang yang jengkel akan menggosok-gosok
tengkuk bagian belakang
·
Menyesali kekhilafannya akan memukul-mukul kepalanya
dengan tangannya sendiri
·
Orang dewasa saat berbicara menyilangkan jari
di bibirnya hingga hidung dianggap sedang sedang berbohong.
Demikian pentingnya bahasa tubuh
dalam berkomunikasi karena menggunakan bahasa tubuh dengan tepat akan menambah
daya tarik pembicaraan dan menambah keyakinan sang komunikator sehingga tampak
berwibawa.
3.
Menjaga kontak mata dan jarak berbicara
Menjaga kontak mata dan jarak berbicara sangat
berpengaruh untuk mencapai komunikasi yang efektif.
·
Seseorang yang tidak menatap lawan bicaranya
dapat diartikan menganggap remeh atau membencinya
·
Pandangan hampa satu detik dicadangkan untuk
hal-hal dan orang yang tidak begitu menarik hati kita, pandangan yang demikian
dapat diartikan meremehkan lawan bicara
·
Pandangan dua detik yang biasa dianggap sopan
dan menyenangkan bagi orang lain dalam banyak keadaan. Pandangan ituu dengan
tenang mengatakan “Saya rasa Anda layak diperhatikan.”
·
Pandangan tiga detik yang biasa menyampaikan
rasa tertarik yang pasti, pandangan seperti itu sesungguhnya memberikan kepada
orang lain pujian tidak terucapkan dan mengeluarkan undangan tanpa uar bagi
mereka untuk bergerak lebih dekat, tersenyum atau berbicara.
·
Pandangan empat detik atau lebih dapat
dianggap sebagai perbuatan membelalak yang tidak sopan.
·
Terlalu lama memandang lawan bicara bukan
simpati yang diperoleh tetapi mungkin aja ditafsirkan menantang. Biasanya orang
yang terlalu lama bertatap muka dengan lawan bicaranya saat berbicara akan
saling membuang muka sebab pandangan yang terlalu lama ini akan menimbulkan
tafsiran lain.
Memperhatikan jarak bicara juga
sangat penting untuk mencapai komunikasi yang efektif. Jarak berbicara yang
terlalu dekat kurang baik akan karena membuat risih dan terkesan tidak sopan
sedangkan jarak bicara yang jauh juga kurang baik karena pembicaraan tidak
dapat di dengar dengan baik.
Pendapat
Allan Pease bahwa jarak bercakap-cakap yang dapat diterima oleh orang kota pada
umumnya adalah 46 cm. lebih lanjut beliau membagi jarak berbicara menjadi 4
bagian, yaitu zona intim, zona pribadi, zona social dan zona umum.
·
Zona intim, berjarak 15cm-46cm. Pada zona ini
hanya orang-orang terdekat saja yang boleh memasukinya
·
Zona pribadi, berjarak 46cm-1,2m. Pada jarak
ini orang-orang bergaul dengan orang lain, misalnya teman sesame tamu pesta
·
Zona sosial, berjarak 1,2m-3,6m. jarak ini
biasanya di jaga seseorang berbica dengan orang orang asing, misalnya pelayan took,
penggali sumur dan pegawai baru
·
Zona umum berjarak lebih dari 3,6m. zona ini
di jaga saat seseorang berbicara dengan orang yang banya. Misalnya, memimpin
rapat dan berpidato
4.
Memiliki rasa humor
Humor daalah kemampuan untuk melihat
aspek-aspek yang lucu dan menyenangkan dalam hidup, tanpa mengabaikan
aspek-aspek kerasnya yang menyedihkan. Mengenai humor ini DR. Robert Anthony
membedakan menjadi 4 macam, yaitu humor yang bermusuhan, humor keunggulan,
humor memberontak terhadap kekuasaan dan humor filsafat.
·
Humor bermusuhan yaitu, humor yang membuat
ketawa dengan cara melukai orang lain. Contoh kekurangan nona usan sebagai
seorang sekretaris sebenarnya hanya tinggi badannya saja, namun sayang sekali
kelebihannnya juga hanya berat bdannya saja.
·
Humor keunggulan adalah humor yang
menertawakan rasa rendah diri orang lain. Seorang karyawan baru kebetulan
dipekerjakan pada bagian computer. Demi memenuhi tuntutan pekerjaannya, ia
mengikuti kursus computer. Pada suatu saat sang instruktur computer mengatakan.
“Untuk menggerakkan ‘petunjuk mouse’ keatas maka gerakkalah mouse
anda ke atas juga.” Nah sekarang, coba lakukanlah!” lanjut instruktur computer
lagi. Apa yang dilakukan karyawan baru tadi? Ternyata sang karyawan tadi
mengangkat mousenya! Sambil berkata, “Begini pak?”.
·
Humor yang memberontak terhadap kekuasaan,
yaitu humor yang menertawakan seseorang sehubung dengan kekuasaan yang
dimilikinya. Seorang karyawan merasa sebal dengan bagian personalia gara-gara
ditegur karena masuk kantor terlambat 3 menit. Keesokan harinya karyawan tadi
mengirimkan surat kepada bagian personalia yang menanyakan kenapa bagian
personalia tidak berani menegur bapak pimpinan yang sering kali masuk
terlambat. Bahkan bila pimpinan datang justru disambut dengan senyum yang
ramah. Setelah membaca surat itu, bagian personalia mengirim surat tadi kembali
kepada sang karyawan. Di bagian bawah surat tersebut ditulis: “Jangan geram
Saudara, dendammu sudah terbalas, sebab hari ini saya dengar bapak pimpinan
habis-habisan dimarahi oleh istrinya, gara-gara terlambat pulang selama tiga
menit juga”.
·
Humor filsafat adalah humor yang menertawakan
manusia akan keterbatasannya dan keinginannya yang jujur. Humor ini adalah
humor taraf tinggi yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang matang dan peka.
Seorang pimpinan menerangkan betapa kuatnya arus listrik pada alat yang baru
dibeli perusahaan. Pimpinan tadi berkata, “Berhati-hatilah pada saat
menggunakan alat ini.” Sebab, dengan arus listrik sebesar ini mampu membuat
seekor kuda pingsan!” Kemudian, salah satu pegawai yang merasa khwatir nyeletuk,
Ah bapak, bukannya saya membantah, tetapi kami adalah orang-orang skeptis, jadi
coba Bapak pegang arus itu! Biar kami tahu apa akibatnya bila arus sebesar itu
mengenai manusia!”
Humor memberikan kekuatan
tersendiri pada sebuah komunikasi. Dengan menggunakan humor, ilustrasi yang
dipakai menjadi semakin jelas. Humor dapat berupa ucapan langsung ataupun
sebuah cerita tentang pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Komunikasi
yang disertai humor akan lebih segar dan menyenangkan. Oleh karena itu,
komunikator yang memilki rasa humor memiki daya tarik yang besar bagi
komunikannya.
5.
Memiliki rasa empati
Menurut Eric Maisel Empati adalah kecakapan
untuk memahami perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran orang lain. Adapun salah
satu cara menumbuhkan kemampuan empati, yaitu dengan cara menjadi pendengar
yang baik. Kemampun mendengar yang baik merupkan separuh dari kemampuan
berkomunikasi yang baik. Menjadi pendengar yang baik adalah langkah pertama
kearah komunikator yang mahir.
E.
Gangguan (hambatan) komunikasi
Melakukan
komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Pada umum nya, komunikasi tadi
menggalami gangguan pada unsur unsur penyusunnya gangguan tadi menyebabkan
pesan yang dikirim tidak sampai pada komunikan atau ketidak cocokan antara
pesan yang dikirim oleh komunikator dengan pesan yang diterima oleh komunikan.
Gagguan komunikasi dibedakan atas tujuh macam ganggguan, yaitu gangguan teknis,
semantic, psikologi, rintangan fisik atau organic, rintangan status, rintangan
kerangka berpikir dan rintangan budaya.
1.
Gangguan Tekhnis
Gangguan teknis terjadi pada sarana
berkomunikasi. Gangguan sarana dapat saja terjadi pada komunikator, komunikan ataupun
kedua-duanya. Misal, gangguan ponsel, rusaknya OHP saat digunakan untuk
presentasi, televise yang mengalami gangguan suara atau gambardan suaana yang
gaduh saat seorang sedang berbicara
2.
Sementik
Merupakan gangguan berkomunikasi akibat
kesalahan bahasa yang digunakan. Gangguan ini disebabkan oleh banyaknya istilah
asing yang digunakan oleh komunikator, bahasa yang berbeda antara komunikator
dengan komunikan, adanya makna konotatif dan makna denotatif, latar belakang
budaya yang berbeda dll.
3.
Psikologi
Merupakan gangguan yang dialami karena keadaan
di dalam diri baik komunikator maupun komunikan. Contoh, adanya prasangka buruk
terhadap komunikator, keadaan yang kurang mendukung seperti kejiwaan, misalnya
berduka dan stress.
4.
Rintangan fisik atau organik
Rintangan yang disebabkan oleh kondisi
geografis dan kondisi fisik pelaku komunikasi. Gangguan ini berupa cacat badan
pada pada komunikan atau komunikator, misalnya tuli, buta, berikutnya adalah
keadaan alam yang terpencil, jauhnya jarak antara komuniktor dengan
komunikator.
5.
Rintangan status
Rintangan yang disebabkan oleh perbedaan
status antara komunikator dengan komunikan. Perbedaan status ini antara lain
perbedaan status perkawinan, misanya janda/duda, sudah menikah atau belum
menikah, perbedaan ststus kebangsawanan, pimpinan dengan bawahan dan
sebagainya. Perdedaan ini menyebabkan dalam berkomunikasi harus
mempertimbangkan etika yang berlaku. Tanpa disadari, perbedaan status sangat
mengganggu proses komunikasi, apalagi sebagai orang timur yang masih menjunjung
tinggi tradisi-tradisinya.
6.
Rintangan kerangka berpikir
Gangguan yang berasal dari perbedaan tanggapan
antara komuniktor dengan komunikan. Biasanya bersal dari cara berpikir,
kematangan pengalaman, dan latar belakang pendidikan.
7.
Rintangan budaya
Gangguan akibat perbedaan budaya antara
komunikator dengan komunikan. Berupa perbedaan norma, kebiasaan, adat istiadat
dan nilai-nilai yang di yakini.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Komunikasi
dikatakan efektif jika seorang komunikator dan komunikan seimabang dan
mempunyai kebersamaan (homophily), persoalan yang sama dan tujuan yang
sama. Serta pesan yang diampaikan komunikator dapat merubah tingkah laku
komunikan sesuai yang dengan yang direncanakan atau sesuai harapan.
Misalnya,
seorang sales yang lagi mempromosikan barang yang di jualnya kepada seorang
pelanggan, kemudian pelanggan tersebut membeli barang yang ia tawarkan sesuai
dengan yang diharapkan penjual (sales) itu, dan pelangganpun merasa puas dengan
dengan barang yang dibelinya.
DAFTAR PUSTAKA
Triwidodo, Titiek. Dkk. Pengembangan
Kepribadian Sekretaris, Grasindo, Jakarta, 2004
Hardja, Agus M. Komunikasi
Intrapersonal dan Interpersonal, Kanisius, Yogyakarta, 2003
Ardianto, Elvinaro. Dkk. Filsafat
Ilmu Komunikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2009
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi,
Rosda, Bandung, 2000
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Pidato, T.P,
Surabaya, 2015