Senin, 30 Maret 2015

Komunikasi Efektif



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Modal yang paling berharga untuk bekerja sama dengan orang lain yakni terwujudnya untuk saling berkomunikai dengan baik. Dan komunikasi yang efektif memungkinkan tercapainya tujuan berkomunikasi.
Komunikasi merupakan salah satu hal yang terpenting dalam kehidupan. Kesuksesan dan kegagalan seseorang dalam hidupnya dapat terpengaruhi oleh efek komunukasinya terhadap orang lain, dengan komunikasi kepercayaan seseorang terhadap orang lain dapat tumbuh sehingga untuk mengetahui seseorangpun mudah dilakukan.
Tujuan berkomunikasi tersebut, antara lain mengubah sikap, pendapat, perilaku dan masyrakat. Dengan demikian, menerapkan komunikasi yang efektif sangat penting.
Everett M. Rogers Mengemukakan komunikasi merupakan proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka.[1]
Menurut Martin & Anderson, 1968, komunikasi tidak dapat dimengerti kecuali sebagai proses dinamis dimana pendengar dan pembicara, pembaca dan penulis bertindak secara timbal balik, pembicara bertindak memberikan sensor stimulus pendengar secara lansung dan tidak langsung, pendengar bertindak memberikan stimulus dengan menerimanya, menyimpannya dengan arti memanggil image di pikiran, kemudian menguji image tersebut melawan informasi yang disampaikan dan perasaan dan cepat atau lambat bertindak atas image tersebut.[2]
Komunikasi berawal dari gagasan yang ada pada seseorang. Gagasan itu diolahnya menjadi pesan dan dikirimkan melalui media tertentu kepada orang lain sebagai penerima. Penerima menerima pesan, dan sesudah mengerti isi pesan itu kemudian menanggapi dan menyampaikan tanggapannya kepada pengirim pesan. Dengan menerima tanggapan dari isi penerima pesan itu, pengirim pesan dapat menilai efektifkah  pesan yang dikirimkan. Berdasarkan tanggapan itu, pengirim dapat mengetahui apakah pesannya dimengerti dan sejauh mana pesannya dimengerti oleh orang-orang yang dikirimkan pesan itu.[3]
Berkomunikasi tidak harus dilakukan dengan kata-kata tetapi juga bisa menggunakan gerak mimik tubuh seperti mengedipkan mata, tersenyum dll, tetapi pesan komunikasi akan diterima oleh komunikan apabila komunikan dapat memahami atau mengerti apa yang komunikator sampaikan.
Setiap komunikator pastinya menginginkan pesan yang disampaikan dapat diterima dan dipahami oleh komunikan. Seiring dengan perkembangan zaman kita sangat perlu bagaimana cara berkomunikasi secara efektif. Karena dengan berkomunikasi secara efektif kita tidak akan kalah saing dengan Negara lain.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian komunikasi efektif, serta apa unsur-unsur komunikasi ?
2.      Bagaimana berkomunuikasi yang efektif ?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian komunikasi efektif, serta unsur-unsur komunikasi efektif
2.      Untuk mengetahui bagaimana berkomunikasi efektif
BAB II
A.    Pengertian Komunikasi Efektif
Komunikasi efektif adalah komunikasi yang mampu menciptakan kecocokan antara pesan yang diterima oleh komunikan dengan pesan yang dikirim oleh komunikator sehingga pesan tadi dapat ditindak lanjuti dengan tepat.[4] Menurut T.A Lathief Rousydy (1989:91), komunikasi efektif ialah komunikasi yang berhasil mencapai sasaran dengan feedback yang positif.
Komunikator berhasil secara efektif memberikan pengertian kepada komunikan, sehingga ia mempunyai pengertian yang sama dengan komunikator tentang pesan yang disampaikan. Selanjutnya, komunikator berhasil merubah tingkah laku komunikan sesuai dengan rencana semula.
B.     Unsur-unsur Komunikasi Efektif
Unsur-unsur yang berperan dalam membangun sebuah komunikasi, yaitu:
1.      Komunikator, berfungsi sebagai pengirim pesan. Komunikator dapat terdiri dari personal  ataupun sekelompok orang.
2.      Komunikan, adalah orang yang menerima pesan dari komunikator. Komunikan juga terdiri dari seorang saja ataupun sekelompok
3.      Pesan, merupakan sesuatu yang disampaikan komunikator tertuju kepada komunikannya. Pesan dapat berupa gambar, mimik muka, suara dll. isi pesan antara lain hiburan, perintah dan ilmu pengetahuan.
4.      Sarana, dapat berupa surat, facsimile, telephon, surat kabar, radio, internet, proyektor dll.
5.      Efek, apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tsb. Misalnya penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap (dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, perubahan perilaku (dari tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membelinya, atau dari tidak bersedia memilih partai politik tertentu menjadi bersedia memilihnya dalam pemilu), dan sebagainya.[5]
6.      Umpan balik, masukan-masukan yang diterima oleh komunikator dalam proses komunikasi yang berfungsi untuk melihat sejauh mana suatu pesan yang diterima komunikan cocok dengan maksud komunikator yang sebenarnya. Umpan balik tidak hanya berasal dari komunikan tapi juga bersal dari unsur pesan dan unsur media.
7.      Lingkungan, menurut Hafied Cangara, factor lingkungan dibedakan menjadi 4 golongan, yaitu lingkungan fisik, social budaya, psikologi dan dimensi waktu. Lingkungan fisik mencakup keadaan geografis suatu tempat, jarak antara komunikator dan komunikan juga sarana komunikasi yang dipakai. Lingkungan social budaya meliputi bahasa yang digunakan, kepercayaan, adat istiadat yang berlaku serta status social baik komunikator maupun komunikan. Lingkungan psikologis, antara lain ucapan tertentu yang berpotensi menyakiti hati komunikan, keaktualan materi yang disampaikan, ketepatan materi dengan usia komunikan dll. sementara dimensi waktu merupakan situasi yang menunjukkan kapan saat yang paling tepat untuk melakukan komunikasi.




C.    Syarat-syarat komunikasi efektif
1.      Menciptakan suasana yang menguntungkan
2.      Menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dipahami
3.      Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat di pihak komunikan
4.      pesan dapat menggugah kepentingan dipihak komunikan yang dapat menguntungkannya[6]
Wilbur Schramm merumuskan efektifitas komunikasi (the condition of success in communication) dari sudut pesan:
1.             Pesan harus direncanakan dan disusun sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan
2.             Pesan harus menggunakan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga sama-sama dimengerti
3.             Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara memperoleh kebutuhan tersebut
4.             Pesan harus berisi cara untuk memperoleh kebutuhan terebut sesuai dengan situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki.
Efektifitas komunikasi dari segi waktu:
1.             Waktu yang tepat untuk menyampaikan sesuatu pesan
2.             Bahasa yang harus dipilih agar pesan dapat dimengerti dengan tepat dan benar
3.             Sikap dan nilai yang harus ditampilkan
4.             Jenis kelompok dimana komunikasi akan dilaksanakan
Efektifitas komunikasi dinilai dari sudut komunikan. Menurut Chester I. Barnard, seseorang akan dapat menerima sebuah pesan, hanya kalau terdapat 4 kondisi berikut secara stimulant:

1.             Ia benar-benar mengerti pesan komunikasi
2.             Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuan
3.             Pada aat ia mengambil keputusan, ia juga sadar bahwa keputusannya itu berkaitan dengan kepentingan pribadinya
4.             Ia mampu untuk menjalaninya, baik secara mental maupun fisik
Berkaitan dengan hal diatas, Cultip dan Center dalam bukunya Effective Public Relations mengatakan, setiap komunikator harus ingat beberapa fakta berikut:
1.             Bahwa komunikan terdiri dari orang-orang hidup, bekerja dan bermain satu sama lain dalam jaringan lembaga social. Karena itu setiap orang adalah subyek bagi berbagai pengaruh, diantaranya adalah pengaruh dari komunikator
2.             Bahwa komunikan membaca, mendengar dan menonton komunikasi yang menyajikan pandangan hubungan pribadi yang mendalam.
3.             Bahwa tanggapan yang diinginkan komuniktor harus menguntungkan komunikan. Jika tidak akan memberikan tanggapan.[7]
Kunci menciptakan komunikasi yang efektif, yaitu berusaha mengetahui segala sesuatu tentang komunikan. Komunikan merupakan unsur komunikasi yang penting sebab darinyalah komunikator berharap pesan dapat diterima dan kemudian dapat ditindak lanjuti sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Harus diinsafi bahwa komunikan adalah seorang manusia yang juga mempunyai banyak kebutuhan yang harus di penuhi. Kebutuhan tersebut antara lain kebutuhan akan informasi, kebutuhan berbagi rasa, dan kebutuhan mengembangkan wawasan. Untuk itu, komunikasi harus mampu menjawab kebutuhan komunikan sebuah pesan tadi. Seorang komunikan akan menerima sebuah pean hanya kalau terdapat empat kondisi, yaitu ia dapat benar benar mengerti pesan pesan tersebut. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuannya. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan pribadinya, ia mampu untuk menepatinya secara mental maupun secara fisik.
D.    Etika Komunikasi Dalam Alqur’an dan maqolah
Soal cara (kaifiyah), dalam Al-Quran dan Al-Hadits ditemukan berbagai panduan agar komunikasi berjalan dengan baik dan efektif. Kita dapat mengistilahkannya sebagai kaidah, prinsip, atau etika berkomunikasi dalam perspektif Islam. Kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam ini merupakan panduan bagi kaum muslim dalam melakukan komunikasi, baik dalam komunikasi intrapersonal, interpersonal dalam pergaulan sehari hari, berdakwah secara lisan dan tulisan, maupun dalam aktivitas lain.
1)      AL-QURAN
Dalam berbagai literatur tentang komunikasi Islam kita dapat menemukan setidaknya enam jenis gaya bicara atau pembicaraan (qaulan) yang dikategorikan sebagai kaidah, prinsip, atau etika komunikasi Islam, yaitu

a.        Qaulan Sadida (perkataan yang benar, jujur)
QS. An Nisa ayat 9
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ    فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا
Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah dibelakang mereka, yang mereka khawatirkan terhadap (kesejahteraannya)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar (qaulan sadida)”.(Q.S. an-Nisa’ :09)

2.      Qaulan Baligha (tepat sasaran, komunikatif, to the point, mudah dimengerti)
QS. An Nisa ayat 63
أُولَئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُلْ لَهُمْ فِي أَنْفُسِهِمْ قَوْلا بَلِيغًا
Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. karena itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka Qaulan Baligha –perkataan yang berbekas pada jiwa mereka”. (QS. An-Nisa’ : 63)




3.      Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik)
    QS. Al Ahzab ayat 32
يَا نِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ    فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلا مَعْرُوفًا
Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya] dan ucapkanlah Qaulan Ma’rufa –perkataan yang baik.”(QS. Al-Ahzab: 32)

4.   Qaulan Karima (perkataan yang mulia)
QS. Al Isra’ ayat 23
وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perktaan yang baik”.(QS. Al-Isra’: 23)

Dari ayat tersebut jelas bahwa kita diperintahkan untuk mengucapkan perkataan yang baik atau mulia karena perkataan yang baik dan benar adalah suatu komunikasi yang menyeru kepada kebaikan dan merupakan bentuk komunikasi yang menyenangkan.
5.   Qaulan Layyinan (perkataan yang lembut)
QS. Thaha ayat 43-44
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى
فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun karena benar-benar dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut” (QS.at-Thaha 43-44)

Dari ayat tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Qaulan Layina berarti pembicaraan yang lemah-lembut, dengan suara yang enak didengar, dan penuh keramahan, sehingga dapat menyentuh hati maksudnya tidak mengeraskan suara, seperti membentak, meninggikan suara. Siapapun tidak suka bila berbicara dengan orang-orang yang kasar. Rasullulah selalu bertuturkata dengan lemah lembut, hingga setiap kata yang beliau ucapkan sangat menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, yang dimaksud layina ialah kata kata sindiran, bukan dengan kata kata terus terang atau lugas, apalagi kasar.
Ayat di atas adalah perintah Allah SWT kepada Nabi Musa dan Harun agar berbicara lemah-lembut, tidak kasar, kepada Fir’aun. Dengan Qaulan Layina, hati komunikan (orang yang diajak berkomunikasi) akan merasa tersentuh dan jiwanya tergerak untuk menerima pesan komunikasi kita.
Dengan demikian, dalam komunikasi Islam, semaksimal mungkin dihindari kata-kata kasar dan suara (intonasi) yang bernada keras dan tinggi. Allah melarang bersikap keras dan kasar dalam berdakwah, karena kekerasan akan mengakibatkan dakwah tidak akan berhasil malah ummat akan menjauh. Dalam berdoa pun Allah memerintahkan agar kita memohon dengan lemah lembut, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lemah lembut, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas,” (Al A’raaf ayat 55)

6.      Qaulan Maysura (perkataan yang ringan)
QS. Al Isra’ ayat 28
وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا  مَيْسُورًا
Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka Qaulan Maysura –ucapan yang mudah”.

2)           Maqola
Di dalam perkataan orang arab juga ditemukan prinsip-prinsip etika komunikasi, bagaimana Rasulullah saw mengajarkan berkomunikasi kepada kita. Berikut maqola :
1.      Pertama, Qulil haqqa walaukana murran (katakanlah apa yang benar  walaupun pahit rasanya)
2.      Kedua, falyakul khairan au liyasmut (katakanlah bila benar kalau tidak bisa, diamlah).
3.      Ketiga, laa takul qabla tafakur (janganlah berbicara sebelum berpikir terlebih dahulu).
4.      Keempat, Nabi menganjurkan berbicara yang baik-baik saja, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dunya, “Sebutkanlah apa-apa yang baik mengenai sahabatmu yang tidak hadir dalam pertemuan, terutama hal-hal yang kamu sukai terhadap sahabatmu itu sebagaimana sahabatmu menyampaikan kebaikan dirimu pada saat kamu tidak hadir”.
5.      Kelima, selanjutnya Nabi saw berpesan, “Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang…yaitu mereka yang memutar balikan fakta dengan lidahnya seperti seekor sapi yang mengunyah-ngunyah rumput dengan lidahnya”. Pesan Nabi saw tersebut bermakna luas bahwa dalam berkomunikasi hendaklah sesuai dengan fakta yang kita lihat, kita dengar, dan kita alami.
Prinsip-prinsip etika tersebut, sesungguhnya dapat dijadikan landasan bagi setiap muslim, ketika melakukan proses komunikasi, baik dalam pergaulan sehari-hari, berdakwah, maupun aktivitas-aktivitas lainnya.[8]

E.     Faktor-faktor Menciptakan Komunikasi Efektif
Factor utama yang perlu diperhatikan dalam menciptakan komunikasi yang efektif meliputi;
1.      Faktor komunikator, komunikator yang baik mendukung terciptanya komunikasi yang efektif. Seorang komunikator harus dapat dipercaya dan mempunyai daya tarik bagi komunikannya. Kepercayaan dan daya tarik tadi penting demi pencapaian tujuan berkomunikasi. Tingkat kepercayaan komunikan terhadap komunikator antara lain diperoleh dari wewenang yang dimiliki komunikator, derajat keahlian komunikator, hingga keobjektifan wawasan komunikator. Misalnya saat mendiagnosis suatu penyakit, perkataan seorang dokter lebih dipercaya kebenarannya dari pada perkataan tukang jual obat pinggir jalan dll. dengan adanya kepercayaan komunikan terhadap komunikator, akan meyakinkan komunikan untuk mempercayai kebenaran pesan yang disampaikan oleh sang komunikator. Daya tarik komunikator dapat diupayakan melalui kepribadian yang tegas, ekspresi yang meyakinkan dan tepat serta rasa percaya diri. Selain itu, daya tarik komunikator juga dapat diperoleh melalui pengupayaan kesamaan antara komunikator dengan komunikannya, khususnya kesamaan ideology dari pada kesamaan demografi.
2.      Komunikan, kunci komunikasi yang efektif, yaitu berusaha mengetahui segala sesuatu tentang komunikan. Komunikan merupakan unsur komunikasi yang penting sebab darinyalah komunikator berharap pesan dapat diterima dan kemudian dapat ditindaklanjuti sesuai dengan tujuan berkomunikasi. Harus diinsafi karena komunikan juga manusia yang mempunyai banyak kebutuhan yang harus dipenuhi diantaranya ialah kebutuhan informasi, kebutuhan berbagi rasa dan kebutuhan mengembangkan wawasan. Seorang komunikan akn dapat menerima sebuah pesan hanya kalau terdapat 4 kondisi, yaitu ia dapat dan benar-benar mengerti pesan tersebut. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu sesuai dengan tujuan. Pada saat ia mengambil keputusan, ia sadar bahwa keputusannya itu bersangkutan dengan kepentingan pribadinya, ia mampu menepatinya baik secara mental maupun secara fisik.
3.      Pesan, merupakan suatu hal yang disampaikan oleh komunikator kepada komunikan. Pesan seyogyanya selaras dengan ekspresi atau tindakan yang dimunculkan. Contoh sederhana seseorang yang berlari-lari membawa parang dengan diacung-acungkan sambil berteriak minta tolong, jelas tidak aka nada yang datang menolong sebab orang-orang di sekitarnya justru menjadi ketakutan.

D.    Langkah-langkah menuju Komunikasi Efektif

Untuk menuju arah komunikasi efektif maka diperlukan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1.      Mengembangkan wawasan
Seorang komunikator hendaknya seorang yang cakap dan memiliki wawasan yang luas  sehingga dapat mendongkrak rasa percaya diri komunikator. Maka dengan sendirinya akan memperlancar jalannya komunikasi. Seorang yang berwawasan luas dapat dilihat dari cara ia berbicara dan menyampaikan pertanyaan. Wawasan dapat diperluas melalui membaca, pengalaman, mendengarkan dari orang lain dan sebagainya.
2.      Menggunakan bahasa tubuh
Penggunaan bahasa tubuh mendukung lancarnya komunikasi. Sebagian besar isyarat komunikasi dasar sama di seluruh dunia.
·         Menggeleng tanda tidak setuju
·         Mengangguk tanda setuju
·         Mengernyitkan dahi saat berpikir atau menyelidik
Bahasa tubuh yang mecerminkan emosi yang sedang dialami dan kepribadian orang yang bersangkutan.
·         Orang yang jengkel akan menggosok-gosok tengkuk bagian belakang
·         Menyesali kekhilafannya akan memukul-mukul kepalanya dengan tangannya sendiri
·         Orang dewasa saat berbicara menyilangkan jari di bibirnya hingga hidung dianggap sedang sedang berbohong.
Demikian pentingnya bahasa tubuh dalam berkomunikasi karena menggunakan bahasa tubuh dengan tepat akan menambah daya tarik pembicaraan dan menambah keyakinan sang komunikator sehingga tampak berwibawa.
3.      Menjaga kontak mata dan jarak berbicara
Menjaga kontak mata dan jarak berbicara sangat berpengaruh untuk mencapai komunikasi yang efektif.
·         Seseorang yang tidak menatap lawan bicaranya dapat diartikan menganggap remeh atau membencinya
·         Pandangan hampa satu detik dicadangkan untuk hal-hal dan orang yang tidak begitu menarik hati kita, pandangan yang demikian dapat diartikan meremehkan lawan bicara
·         Pandangan dua detik yang biasa dianggap sopan dan menyenangkan bagi orang lain dalam banyak keadaan. Pandangan ituu dengan tenang mengatakan “Saya rasa Anda layak diperhatikan.”
·         Pandangan tiga detik yang biasa menyampaikan rasa tertarik yang pasti, pandangan seperti itu sesungguhnya memberikan kepada orang lain pujian tidak terucapkan dan mengeluarkan undangan tanpa uar bagi mereka untuk bergerak lebih dekat, tersenyum atau berbicara.
·         Pandangan empat detik atau lebih dapat dianggap sebagai perbuatan membelalak yang tidak sopan.
·         Terlalu lama memandang lawan bicara bukan simpati yang diperoleh tetapi mungkin aja ditafsirkan menantang. Biasanya orang yang terlalu lama bertatap muka dengan lawan bicaranya saat berbicara akan saling membuang muka sebab pandangan yang terlalu lama ini akan menimbulkan tafsiran lain.
Memperhatikan jarak bicara juga sangat penting untuk mencapai komunikasi yang efektif. Jarak berbicara yang terlalu dekat kurang baik akan karena membuat risih dan terkesan tidak sopan sedangkan jarak bicara yang jauh juga kurang baik karena pembicaraan tidak dapat di dengar dengan baik.
      Pendapat Allan Pease bahwa jarak bercakap-cakap yang dapat diterima oleh orang kota pada umumnya adalah 46 cm. lebih lanjut beliau membagi jarak berbicara menjadi 4 bagian, yaitu zona intim, zona pribadi, zona social dan zona umum.
·         Zona intim, berjarak 15cm-46cm. Pada zona ini hanya orang-orang terdekat saja yang boleh memasukinya
·         Zona pribadi, berjarak 46cm-1,2m. Pada jarak ini orang-orang bergaul dengan orang lain, misalnya teman sesame tamu pesta
·         Zona sosial, berjarak 1,2m-3,6m. jarak ini biasanya di jaga seseorang berbica dengan orang orang asing, misalnya pelayan took, penggali sumur dan pegawai baru
·         Zona umum berjarak lebih dari 3,6m. zona ini di jaga saat seseorang berbicara dengan orang yang banya. Misalnya, memimpin rapat dan berpidato
4.      Memiliki rasa humor
Humor daalah kemampuan untuk melihat aspek-aspek yang lucu dan menyenangkan dalam hidup, tanpa mengabaikan aspek-aspek kerasnya yang menyedihkan. Mengenai humor ini DR. Robert Anthony membedakan menjadi 4 macam, yaitu humor yang bermusuhan, humor keunggulan, humor memberontak terhadap kekuasaan dan humor filsafat.
·         Humor bermusuhan yaitu, humor yang membuat ketawa dengan cara melukai orang lain. Contoh kekurangan nona usan sebagai seorang sekretaris sebenarnya hanya tinggi badannya saja, namun sayang sekali kelebihannnya juga hanya berat bdannya saja.
·         Humor keunggulan adalah humor yang menertawakan rasa rendah diri orang lain. Seorang karyawan baru kebetulan dipekerjakan pada bagian computer. Demi memenuhi tuntutan pekerjaannya, ia mengikuti kursus computer. Pada suatu saat sang instruktur computer mengatakan. “Untuk menggerakkan ‘petunjuk mouse’ keatas maka gerakkalah mouse anda ke atas juga.” Nah sekarang, coba lakukanlah!” lanjut instruktur computer lagi. Apa yang dilakukan karyawan baru tadi? Ternyata sang karyawan tadi mengangkat mousenya! Sambil berkata, “Begini pak?”.
·         Humor yang memberontak terhadap kekuasaan, yaitu humor yang menertawakan seseorang sehubung dengan kekuasaan yang dimilikinya. Seorang karyawan merasa sebal dengan bagian personalia gara-gara ditegur karena masuk kantor terlambat 3 menit. Keesokan harinya karyawan tadi mengirimkan surat kepada bagian personalia yang menanyakan kenapa bagian personalia tidak berani menegur bapak pimpinan yang sering kali masuk terlambat. Bahkan bila pimpinan datang justru disambut dengan senyum yang ramah. Setelah membaca surat itu, bagian personalia mengirim surat tadi kembali kepada sang karyawan. Di bagian bawah surat tersebut ditulis: “Jangan geram Saudara, dendammu sudah terbalas, sebab hari ini saya dengar bapak pimpinan habis-habisan dimarahi oleh istrinya, gara-gara terlambat pulang selama tiga menit juga”.
·         Humor filsafat adalah humor yang menertawakan manusia akan keterbatasannya dan keinginannya yang jujur. Humor ini adalah humor taraf tinggi yang dapat dirasakan oleh orang-orang yang matang dan peka. Seorang pimpinan menerangkan betapa kuatnya arus listrik pada alat yang baru dibeli perusahaan. Pimpinan tadi berkata, “Berhati-hatilah pada saat menggunakan alat ini.” Sebab, dengan arus listrik sebesar ini mampu membuat seekor kuda pingsan!” Kemudian, salah satu pegawai yang merasa khwatir nyeletuk, Ah bapak, bukannya saya membantah, tetapi kami adalah orang-orang skeptis, jadi coba Bapak pegang arus itu! Biar kami tahu apa akibatnya bila arus sebesar itu mengenai manusia!”
Humor memberikan kekuatan tersendiri pada sebuah komunikasi. Dengan menggunakan humor, ilustrasi yang dipakai menjadi semakin jelas. Humor dapat berupa ucapan langsung ataupun sebuah cerita tentang pengalaman hidup pribadi maupun orang lain. Komunikasi yang disertai humor akan lebih segar dan menyenangkan. Oleh karena itu, komunikator yang memilki rasa humor memiki daya tarik yang besar bagi komunikannya.
5.      Memiliki rasa empati
Menurut Eric Maisel Empati adalah kecakapan untuk memahami perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran orang lain. Adapun salah satu cara menumbuhkan kemampuan empati, yaitu dengan cara menjadi pendengar yang baik. Kemampun mendengar yang baik merupkan separuh dari kemampuan berkomunikasi yang baik. Menjadi pendengar yang baik adalah langkah pertama kearah komunikator yang mahir.
E.     Gangguan (hambatan) komunikasi
Melakukan komunikasi yang efektif tidaklah mudah. Pada umum nya, komunikasi tadi menggalami gangguan pada unsur unsur penyusunnya gangguan tadi menyebabkan pesan yang dikirim tidak sampai pada komunikan atau ketidak cocokan antara pesan yang dikirim oleh komunikator dengan pesan yang diterima oleh komunikan. Gagguan komunikasi dibedakan atas tujuh macam ganggguan, yaitu gangguan teknis, semantic, psikologi, rintangan fisik atau organic, rintangan status, rintangan kerangka berpikir dan rintangan budaya.
1.      Gangguan Tekhnis
Gangguan teknis terjadi pada sarana berkomunikasi. Gangguan sarana dapat saja terjadi pada komunikator, komunikan ataupun kedua-duanya. Misal, gangguan ponsel, rusaknya OHP saat digunakan untuk presentasi, televise yang mengalami gangguan suara atau gambardan suaana yang gaduh saat seorang sedang berbicara
2.      Sementik
Merupakan gangguan berkomunikasi akibat kesalahan bahasa yang digunakan. Gangguan ini disebabkan oleh banyaknya istilah asing yang digunakan oleh komunikator, bahasa yang berbeda antara komunikator dengan komunikan, adanya makna konotatif dan makna denotatif, latar belakang budaya yang berbeda dll.
3.      Psikologi
Merupakan gangguan yang dialami karena keadaan di dalam diri baik komunikator maupun komunikan. Contoh, adanya prasangka buruk terhadap komunikator, keadaan yang kurang mendukung seperti kejiwaan, misalnya berduka dan stress.
4.      Rintangan fisik atau organik
Rintangan yang disebabkan oleh kondisi geografis dan kondisi fisik pelaku komunikasi. Gangguan ini berupa cacat badan pada pada komunikan atau komunikator, misalnya tuli, buta, berikutnya adalah keadaan alam yang terpencil, jauhnya jarak antara komuniktor dengan komunikator.
5.      Rintangan status
Rintangan yang disebabkan oleh perbedaan status antara komunikator dengan komunikan. Perbedaan status ini antara lain perbedaan status perkawinan, misanya janda/duda, sudah menikah atau belum menikah, perbedaan ststus kebangsawanan, pimpinan dengan bawahan dan sebagainya. Perdedaan ini menyebabkan dalam berkomunikasi harus mempertimbangkan etika yang berlaku. Tanpa disadari, perbedaan status sangat mengganggu proses komunikasi, apalagi sebagai orang timur yang masih menjunjung tinggi tradisi-tradisinya.
6.      Rintangan kerangka berpikir
Gangguan yang berasal dari perbedaan tanggapan antara komuniktor dengan komunikan. Biasanya bersal dari cara berpikir, kematangan pengalaman, dan latar belakang pendidikan.
7.      Rintangan budaya
Gangguan akibat perbedaan budaya antara komunikator dengan komunikan. Berupa perbedaan norma, kebiasaan, adat istiadat dan nilai-nilai yang di yakini.






BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Komunikasi dikatakan efektif jika seorang komunikator dan komunikan seimabang dan mempunyai kebersamaan (homophily), persoalan yang sama dan tujuan yang sama. Serta pesan yang diampaikan komunikator dapat merubah tingkah laku komunikan sesuai yang dengan yang direncanakan atau sesuai harapan.
Misalnya, seorang sales yang lagi mempromosikan barang yang di jualnya kepada seorang pelanggan, kemudian pelanggan tersebut membeli barang yang ia tawarkan sesuai dengan yang diharapkan penjual (sales) itu, dan pelangganpun merasa puas dengan dengan barang yang dibelinya.






DAFTAR PUSTAKA
Triwidodo, Titiek. Dkk. Pengembangan Kepribadian Sekretaris, Grasindo, Jakarta, 2004
Hardja, Agus M. Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, Kanisius, Yogyakarta, 2003
Ardianto, Elvinaro. Dkk. Filsafat Ilmu Komunikasi, Simbiosa Rekatama Media, Bandung, 2009
Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi, Rosda, Bandung, 2000
Aziz, Moh. Ali. Ilmu Pidato, T.P, Surabaya, 2015



[1] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2010), h.69
[2] Elvinaro Ardianto, Bamang Q-Anees, Filsafat Ilmu Komunikasi, (Bandung: simbiosa Rekatama Media, 2009),h.19
[3] Agus M. Hardjana, Komunikasi Intrapersonal dan Interpersonal, (Yogyakarta: Kanisius,2003), h.10-11
[4] Titiek Triwidodo, Djoko Kristanto, Pengembangan Kepribadian Sekretaris, (Jakarta: PT. Grasindo, 2004), h. 109
[5] Deddy Mulyana, Ilmu Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h.71
[6] http://farhathuseinalatas.blogspot.com/2012/05/034syarat-syarat-untuk-berkomunikasi.html?m=1
[7] Moh. Ali Aziz, Ilmu Pidato, (Surabaya: TP, 2015),h.21-22
[8] http://follyakbar.blogspot.com/2012/11/ayat-dan-hadits-tentang-komunikasi.html

11 komentar:

  1. Terimakasih kawan, semoga bermanfaat. Jazakumullah

    BalasHapus
  2. Terimakasih kawan, semoga bermanfaat. Jazakumullah

    BalasHapus
  3. Ijin mau ambil ilmunya boleh ya. :)

    BalasHapus
  4. izin buat tambahan refernsi yaa?

    BalasHapus
  5. mana yang lainnya pak,,,,,kemarin ada beberapa kalimat di makalah ante yang ane copy sby status...makasih ya

    BalasHapus
  6. Bermanfaat sekali… izin share ya kak.…

    BalasHapus
  7. Alfia Helwa Semangat Pak >.<

    BalasHapus
  8. makasih amakalahnya gan.... makalah komunikasinya keren..

    BalasHapus